Dalam sebuah kesempatan saya membaca tulisan sdr. Mukhlish, seorang mahasiswa di Fak. Dakwah IAIN Sumatera Utara Medan berjudul Paradima Pemahaman Liberal; Allah Bukan Tuhan Umat Islam. Beliau mengaku menyajikan tulisan ini dengan berangkat dari sebuah lembaga Sains Community Study Club. Dalam tulisannya tersebut beliau mempertanyakan siapa, bagaimana. Serta dimana Tuhan? yang pada akhirnya menyimpulkan bahwa “Allah bukan Tuhan umat Islam”.
Sejujurnya, saya butuh waktu yang cukup panjang untuk memahami tulisan sdr. Mukhlish bertajuk Paradigma Pemahaman Liberal; Allah Bukan Tuhan Umat Islam. Pasalnya, saya menemukan kesulitan untuk memastikan apa yang menjadi persoalan dalam tulisan tersebut, persoalan Tuhankan?, atau persoalan pemahaman liberal?. Bahkan, saya hampir menyimpulkan bahwa sdr. Mukhlis ingin memaparkan: “Allah bukan Tuhannya umat Islam menurut pemahaman liberal”. Namun, dengan telaah yang sederhana, akhirnya saya menyadari sdr. Mulhlish sesungguhnya ingin menyingkap wacana Ketuhanan dengan mengaitkannya terhadap pemahaman liberal sebagai sebuah komunitas yang menjadi perbincangan hangat dalam dunia Islam Indonesia belakangan ini. Sayangnya, wacana menarik yang beliau lontarkan tidak memberikan penyelesaian yang jelas, sehingga mengundang kritik tajam dari berbagai kalangan. Karenanya, dalam uraian sederhana ini saya akan memaparkan terlebih dahulu sekelumit persoalan “Ketuhanan”, selanjutnya menyinggung sedikit fenomena liberal yang juga disinggung dalam tulisan sdr. Mukhlis.
Wacana “Tuhan” Ditinjau dari Beberapa Aspek
Dalam sebuah dialog kecil, Kautsar Azhari Noer memberikan pernyataan kepada seorang pegawai kantor Depag yang kebetulan beragama Budha. Beliau mengatakan bahwa agama Budha tidak memilki konsep yang jelas tentang Tuhan, bahkan Sidharta Ghautama tidak pernah memberikan pemehaman yang jelas tentang Tuhan. Pegawai tersebut merespon pertanyaan Kautsar dengan mengatakan: Islam sendiri mencoba membatasi Tuhan, Islam mengatakan Tuhan “begini dan begitu”, Islam mencoba melekatkan nama Tuhan, Islam mencoba mendefenisikan Tuhan yang tak terbatas dengan bahasa manusia yang serba terbatas (sumber: artikel Paramadina)
Tuhan sebuah kata yang mudah disebut namun sulit untuk dibuktikan, bahkan ada kesan “membingungkan” ketika Tuhan dibicarakan, karenanya Tuhan “tak perlu dibicarakan”. Akan tetapi ada pula yang justru merasa senang ketika membicarakan Tuhan, ada kepuasan bathin tersendiri saat Tuhan dibicarakan, sebab seperti yang pernah disebutkan seorang aktivis JIMI (Jaringan Intelektual Muda Islam), zikir yang hakiki bukanlah mengucapkan “lafazh-lafazh” tanpa pernah mengerti makna, namun zikir yang hakiki adalah ketika Tuhan dibicarakan.
Dalam sebuah materi ketuhidan yang disampaikan disalah satu kegiatan pelatihan di kota Medan, pemateri dengan meminjam pendapat Mukti Ali menyebutkan bahwa essensi Tuhan dalam wacana Tauhid bukanlah Tuhan yang “esa” (satu), akan tetapi “Tuhan pemersatu”. Pemersatunya Tuhan dapat dilihat dari sifat-sifat yang dilekatkan kepada-Nya, yang essensinya adalah sifat manusia, namun ditambah dengan sifat “maha”, totalitas dari sifat-sifat manusia itulah yang menunjukkan Tuhan sebagai pemersatu. Oleh karenanya tauhid yang sempurna adalah ketika manusia mampu merasakan bahwa mereka berasal dari sumber yang satu, dan tauhid akan sompel manakala manusia merasa ada perbedaan diantara mereka.
Pada kesempatan lain, seorang dosen dalam perkuliahan meminta mahasiswanya untuk memaparkan Tuhan menurut persepsi masing-masing. Dapat dipastikan, tidak ditemukan satu persepsi yang sama tentang “bagaimana Tuhan”, sungguhpun mereka setuju Allah adalah Tuhan mereka. Melihat kondisi tersebeut, sang dosen dengan gamblangnya mengatakan “jangan-jangan Tuhan kita berbeda”. Jika persepsi yang diminta, maka tidak dapat dibantah bahwa Tuhan masing-masing bisa saja berbeda. Apalagi Tuhan sampai hari ini hanya dapat dibuktikan dialam ide, kebenaran Tuhan tidak dapat dibuktikan secara koresponden, melankan praghmatis.
Masih tentang Tuhan, meminjam keyakinan umat Nasrani, kita dapat melihat sosok Tuhan sebagai zat tunggal yang patut diper-Tuhankan. Sebagaimana yang termaktub dalam al-Kitab: “Allah benar yang tunggal (Eloah) adalah satu-satunya Tuhan, sebelum dia tidak ada Allah dibentuk, dan sesudahnya tidak akan ada lagi” (Yesaya/ 43: 10). Terlepas dari keyakinan masing-masing, dalam tataran ini tampak adanya kesamaan memahami konsep Tuhan diantara pemelu Nasrani dan umat Islam. Lihatlah bagaimana Tuhan dijelaskan dalam al-Qur’an sebagai “Tuhan yang esa, tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, tiada yang setera dengan-Nya” (al-Ikhlash/ 112: 1-3) Dari beberapa wacana yang dipaparkan diatas kiranya telah cukup membantu kita untuk memahami – paling tidak – sedikit saja konsep tentang Tuhan, atau justru kita akan semakin khawatir menyimpulkan “apa dan bagaimana Tuhan”, sehingga membatasi diri hanya dengan cukup “mengimani-Nya” saja. Saya sendiri tidak mempunyai keberanian yang besar untuk menyimpulkan secara mutlak konsep Tuhan, hanya saja mengetahui Tuhan sebagai zat yang di Tuhankan menjadi harus jika kita mengaku ber-Tuhan. “Aku hanya dapat diketahu lewat prasangka hamba-Ku, maka berprasangka yang baiklah tentang Aku” kata Tuhan dalam sebuah hadits kudsi. Setidaknya hadits ini dapat membantu kita untuk lebih terarah mengenal Tuhan.
Liberal dan Pemahaman Ketuhanan
Ada sebuah stigma yang muncul dikebanyakan masyarakat Islam tentang pemahaman liberal (khususnya JIL, baca: Jaringan Islam Liberal), bahwa mereka berupaya menyamakan seluruh agama yang ada. Pertanyaannya: apa benar demikian?. Argumentasi pembenaran stigma tersebut antara lain dapat dilacak dalam buku yang ditulis Hartono Ahmad Jaiz: Membongkar Bahaya JIL dan FLA, sebuah karya yang menunjukkan kesesatan JIL dan buku Fiqih Lintas Agama (FLA) yang mereka terbitkan dengan alasan adanya upaya-upaya menyamakan seluruh agama. Sebagai contoh: kasus dibolehkannya menjawab salam orang diluar Islam, pernikahan beda agama atau doa bersama, yang menurut kebanyakan ulama “haram” dalam ajaran Islam (baca: Fiqih Lintas Agama)
Sebagai perbandingan, Nurcholish Madjid tentang pluralitas agama – sebagai salah satu yang diusung JIL – menuliskan: “…Tuhan telah membangkitkan pengajar penganut kebenaran (nabi, rasul) kepada semua umat manusia tanpa kecuali, dan pada inti ajaran mereka semuanya adalah sama dan satu, yaitu ajaran tunduk-patuh dan taat-pasrah kepada Tuhan yang disebut al-Islam (dalam makna generik-pen), maka sesungguhnya dialog (inklusivisme-pen) adalah sesuatu yang tidal saja dimungkinkan, malah diperlukan jika tidak dikatakan harus (Nurcholish Madjid. Dialog Agama-Agama Dalam Perspektif Universalisme al-Islam dama Pasing Over; Melintasi Batas Agama. Paramadina dan Gramedia Pustaka. Jakarta. 1999. h: 19) dari sini dapat kita lihat bahwa kehadiran pemahaman liberal sesungguhnya ingin mempersepsikan wacana Ketuhanan yang satu dan sama dengan pendekatan “theologi wahyu”. Sebagaimana disinggung sebelumnya, bahwa konsep Tuhan yang tidak terbatas mustahil dirasionalkan dengan kemampuan akal manusia yang serba terbatas, maka hanya ada satu kata bahwa “Tuhanku-Tuhanmu dan Tuhan kita” essensinya merupakan Tuhan yang satu, Tuhan yang hanya mungkin diketahui melalui prasangka manusia.
Tak jarang manusia bertengkar hanya karena persoalan “Tuhanku-lah yang sebenarnya Tuhan, bukan Tuhan-mu”, sehingga menimbulkan konflik berkepanjangan, maka berdasarkan wacana inilah JIL dilahirkan. Dengan semangat pluralitas dan kebersamaan yang pada intinya menuju kepada Tuhan yang satu. Hal ini pula yang memungkinkan Islam hanya dapat dipandang sebagai agama rahmatan lil’alamin yang mampu bertahan disegala zaman, bukan Islam yang berwajah “sangar dengan istilah yang selalu dipropagandakan barat “pedang di tangan kanan, al-Qur’an di tangan kiri”
Penutup
Akhirnya, sajian sederhana ini hendaknya dapat dijadikan sebagai salah satu hasil dialog positif untuk meluruskan wacana yang dimunculkan dalam tulisan sdr. Mukhlish. Persoalan Allah bukan Tuhan umat Islam, atau justru Allah Tuhannya segala umat, agaknya hanya segelintir perbedaan bahasa untuk menyebutkan Tuhan, yang pada intinya Tuhan hanya dapat dipersepsikan melalui prasangka manusia.



bagimu Agamamu
Bagiku Agamaku
BAGIMU AGAMAMU
GABIKU AGAMAKU
BAGIKU AMALKU
BAGIMU AMALMU
FOR YOU, WHAT HAVE YOU DONE LIVING IN THE WORLD
TRULLY, WHERE WE ARE FROM
AND WHO CREATES US AND THIS LIFE, THIS WORLD?
IF THERE ARE MANY GODS, THE GOD IS NOT ABSOLUTE
MY BELOVED BROTHER YOU MUST THINK, MEDITATE,IMAGINE WE’RE BORN THEN WE’LL DIE. WHO IS ROUTES ALL????
masih kabur, terlalu dalam maksudnya!
tuhanku, yang tak pernah ku katup dengan luruhnya waktu.
meski aku belum bertemu.
Pemahaman bahwa Allah bukan Tuhannya umat Islam saja, tetapi umat lainnya juga adalah sesuai:
Al Baqarah (2) ayat 148: Bagi tiap-tiap ada kiblatnya (sendiri-sendiri, seperti aqidahnya, syariatnya, ritualnya, rasulnya, kitabnya, tempat ibadahnya dan lain-lainnya) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan (persepsi agamanya masing-masing). Dimana saja (diagama apa saja) kamu sekalian berada PASTI Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (kedalam persepsi tunggal agama sesuai An Nahl (16) ayat 93, pada hari kiamat, hari habis gelap terbitlah terang ilmu pengetahuan agama sesuai Al Qiyamah (75) ayat 6-15, Al Baqarah (2) ayat 257 artinya pada hari kebangkitan ilmu agama sesuai Al Mujaadilah (58) ayat 6,18,22).
Maka oleh karena itu semua manusia wajib menunggu-nunggu dan jangam melupakan:
1. Al A’raaf (7) ayat 52,53: Datangnya Allah dengan hari takwil kebenaran kitab.
2. Fushshilat (41) ayat 44: Datangnya Allah dengan menjadikan Al Quran dalam bahasa asing ‘Indonesia” selain dalam bahasa Arab.
3. Thaha (20) ayat 114,115: Datangnya Allah menyempurnakan pewahyuan Al Quran (sebagai isi kitab suci sesuai Al Waqi’ah (56) ayat 77-79) berkat do’a ilmu pengetahuan agama oleh manusia.
4. An Nahsr (110) ayat 1,2,3: Allah akan menurunkan Agama Allah dengan ilmu pangetahuan agama untuk dapat manusia bermacam-macam agama dapat masuk berbondong-bondong kedalamnya.
5. An Nahl (16) ayat 93: Allah akan menurunkan ilmu kesatuan agama, bila tidak setuju disesatkan Allah, bila setuju Allah membari petunjuk.
6. At Taubah (9) ayat 97: Kesemuannya itu yang menjadi penolaknya adalah orang yang kerab-araban paling kafir dan paling munafik.
Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millannium ke-3 masehi.
saya paling tidak suka kalau umat islam hari ini menyatakan bahwa umat kriten mempunyai tuhan yaitu yesus, budha mempunyai tuhan begitu juga hindu, Shinto, Kong Ho chu dan lain sebagainya.
padahal banyak ungkapan di dalam Al qur’an bahwa tiada tuhan sewlain Allah. mereka (Umat islam) masih saja menggangap bahwa mereka juga mempunyai tuhan yang dapat dipertanggung jawabkan tuhannya
Untuk jelasnya hal-hal tersebut diatas dan menyelesaikan perselisihan persepsi antara agama-agama dan didalam agama yang telah terpecah-belah menjadi 73 firqah / sekte sesuai Ar Ruum (30) ayat 32, Al Mu’minuun (23) ayat 53,54 dan Yudas 1:18,19,20,21, maka perlu ALLAH BAPA TURUN TANGAN untuk melaksanakan kembali kepada satu umat beragama memenuhi An Nahl (16) ayat 93.
Untuk itu telah kami terbitkan buku panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul:
“BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
berikut 4 macam lampiran acuan:
“SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN AGAMA (GLOBALISASI)”
hasil karya tulis ilmiah otodidak penelitian terhadap isi kitab-kitab suci agama-agama selama 25 tahun oleh:
“SOEGANA GANDAKOESOEMA”
dengan penerbit:
“GOD-A CENTRE”
dan mendapat sambutan hangat tertulis dari:
“DEPARTEMEN AGAMA REPUBLIK INDONESIA” DitJen Bimas Buddha, umat Kristiani dan tokoh Islam Pakistan.
Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millenium ke-3 masehi.
Buku Panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul:
“BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
Penulis: Soegana Gandakoesoema
Penerbit: GOD-A CENTRE
Tersedia ditoko buku K A L A M
Jl. Raya Utan Kayu 68-H, Jakarta 13120
Telp. 62-21-8573388
allah bukanlah tuhan tapi allah adalah dzat dan manusiapun gak bisa menggambarkan secara faktual ataupun secara empiric,allah adalah satu dan tuhan adalah banyak.JIL hanya mencoba mengembangkan wacananya tentang tuhan dengan cara membebaskan doktrin yang diluar batas,omongkosong tentang tuhan yang ada hanyalah Allah
allah umat islam kan di dalam kabah.xang konon tempatnya dewa2 arab jaman dulu.
Lakum diinukum waliyadiin, sudah sangat jelas, tapi ada sebagian manusia dhoif coba membuat kaburlagi. Memberikan gambrn tntng ALLAH dengan mencatut pendeFinisian dari lintas agama itu tak nyambung, meski katanya dlm kitab bibel dan agama laen ada persamaannya, karena setiap pemahaman muslim tentang Allah tdk berdiri sendiri tetapi ada konsekwensinya dlm kehidupan yang jauh berbeda tentunya dengan pemahaman nashoro misalnya, terhadap tuhan bapa,tuhan ibu dan tuhan anaknya, cöntoh orang jil kalo meninggal mau gak penguburannya pake ritual nasrani, atau soeganda misal orang budha mau gak matinya pake cara islam, kalau pun mau, tapi orang islam gk kan mau, jadi penamaan Allah sbg zat yang disembah tdklah segampang maen catut2 saja. La ikroha fiddiin ..tdk ada paksaan dlm memasuki suatu agama… Akan tetapi bila sudah masuk kdlm suatu agama maka wajib ikut aturan maen yang ada di dalam agama tersebut termasuk pendefinisian dan pemahaman tentang ilahnya, keesaan ALLAH tdk sama dg keesaan tuhannya nashoro, memang sbg muslim wajib mengakui semua makhluk ciptaan Allah, tapi menolak utk menjadi hamba2 tuhan2 agama lain. Nauzubillahiminzalik. Wallahu’alam
tuhan itu gondrong kata orang kristen,tuhan itu bermacam2 bentuk kata orang hindu,tuhan itu ga jelas kata orang budha,tuhan itu itu ga bakal kelihatan kata orang islam…tuhan itu tidak ada kata orang atheis..
Kita tidask akan bisa menemukan bahwa sesungguhnya tuhan kita adalah allah yang mempunyai sifat2 yang di terangkan oleh ulama’2 kita. Kita hanya bisa tau sebatas bahwa alam semesta ini ada yang menciptakan. Umat islam tau bahwa tuhannya adalah allah adalah karena di beritau ulama’2 atau dari nabi muhammad. Kita bersyukur karena kita semua ummat islam mendapat hidayah dari allah
pokoke Allah itu segala galanya buat saya………………….
buku islami